Serunya Bermain, Bersantai dan Berolahraga di ECOPARK CitraRaya City

CitraRaya City sebagai sebuah kota mandiri dalam melaksanakan pembangunannya selalu berorientasi kepada green environment yang merupakan implementasi dari program EcoCulture yang dicanangkan oleh induk perusahaannya PT Ciputra Residence.

Melalui program EcoCulture, CitraRaya City tidak hanya menyediakan kawasan hunian yang ramah lingkungan, tapi juga menerapkan budaya green living dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan menghadirkan sebuah taman bernama EcoPark CitraRaya City.

[cycloneslider id=”crc-eco”]

Taman seluas kurang lebih 1 hektare ini terletak di segitiga emas antara kawasan perumahan dengan fasilitas-fasilitas penunjang lain di CitraRaya City. EcoPark meyediakan ruang terbuka hijau untuk masyarakat umum, khususnya warga CitraRaya City.

Beragam fasilitas rekreasi dan olahraga outdoor tersedia di taman ini, mulai dari jogging track,pull up bar, monkey bar, area panahan, area reflexology, dan wahana permainan air. Selain berolahraga dan menikmati permainan di laguna, EcoPark juga menjadi wadah untuk berkumpul bersama teman dan keluarga ditemani dengan suasana asri dan sejuk. Menariknya, terdapat aneka pilihan kuliner di sekitar EcoPark yang wajib untuk dicicipi.

Wujudkan Komitmen EcoCulture, Pemprov, Pemkot dan CitraGrand City Gelar Hari Menanam Pohon Indonesia


Demi mewujudkan lingkungan hidup yang semakin baik bagi masyarakat, Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel dan Pemkot Palembang bersama CitraGrand City pada 28 November 2016 kemarin menggelar peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) 2016 yang berlokasi di EcoPark CitraGrand City.

Kegiatan ini yang dihadiri oleh 1000 orang ini juga melibatkan langsung Asisten III Bidang Kesejateraan Rakyat Setda Provinsi Sumsel Ahmad Najib, Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel, Sigit Wibowo serta perwakilan FKPD dan SKPD dilingkup Pemprov. Sumsel.

Beragam kegiatan bertemakan lingkungan seperti penanaman pohon, penebaran 3.000 benih ikan di danau EcoPoint, pemberian penghargaan kepada pemenang lomba penghijauan dan juga penyerahan bibit pohon ke beberapa sekolah dan masyarakat juga mengisi kemeriahan perayaan HMPI kemarin.

[cycloneslider id=”cgcp-eco”]

“Kegiatan hari ini juga merupakan wujud komitmen dan konsitensi CitraGrand City terhadap program EcoCulture dalam misi untuk menghadirkan ruang terbuka hijau yang bisa digunakan oleh masyarakat luas,” ungkap Jafarudin selaku Manager Planing and Design CitraGrand City.

Bertepatan dengan HMPI ini CitraGrand City juga memperkenalkan EcoPoint yang kedepannya akan menjadi salah satu destinasi rekreasi bagi masyarakat Palembang. “Jadi ruang terbuka hijau yang kami hadirkan adalah EcoPark yang di dalamnya terdapat danau EcoPoint seluas 1,1 Ha lengkap dengan jogging track, danau rekreasi, plaza, dan area yang sudah ditanam 400 batang pohon pinus yang ke depannya diharapkan dapat menjadi hutan pinus untuk bersantai di pagi maupun sore hari,” ujar Jafar.

“Saya sangat apresiasi terhadap pembangunan di CitraGrand City ini, apalagi sekarang kita punya EcoPark dan ada penanaman sejuta pohon. Saya ingin kawasan ini nanti benar-benar ada lapangan terbuka hijau yang nanti bisa dimanfaatkan selain untuk penduduk yang tinggal di lingkungan ini juga penduduk yang di luar, dan kita juga bisa jadikan tempat ini sebagai salah satu rekreasi masyarakat Palembang,” ujar Wakil Wali Kota Palembang, Fitriyanti Agustinda SH.

CitraRaya City Perkenalkan Hunian Nyaman dan EcoFriendly

Interior CBR lowCluster New Citra Bukit Raya berhasil menghadirkan perumahan modern minimalis di area terbatas dengan hasi yang maksimal. Memiliki hunian nyaman menjadi salah satu target untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga tercinta. Apalagi kalau hunian tersebut memiliki arsitektur yang mampu memaksimalkan efektivitas dan kebersamaan. Oleh karena itu, rumah begaya modern minimalis menjadi pilihan favorit.

Berbagai kelebihan dari gaya arsitektur ini berhasil dihardirkan oleh cluster New Citra Bukit Raya. Inovasi ini merupakan wujud ciputra group dalam menyediakan hunian dengan desain terbaik yang mampu memberikan kenyamanan bagi para penghuninya.
Cluster New Citra Bukit Raya merupakan salah satu cluster di perumahan CitraRaya City Mendalo Jambi yang menyediakan 3 tipe rumah dengan berbagai ukuran luas tanah dan bangunan, TIpe Amarilis (120/42) ,Tipe Aster (120/36), dan Tipe Alamanda (96/27).
Hunian yang terdiri dari berbagai ruang ini didesain dengan epic sehingga mampu menghadirkan gaya arsitektur modern minimalis di area yang terbatas. Walaupun berukuran minimalis, Ciputra Group mampu menghadirkan gaya arsitektur tersebut dengan maksimal sehingga tercipta hunian yang nyaman dan sesuai dengan gaya hidup penghuninya yang modern.

Area Terbatas Bukan Alasan

Interior CBR 2 lowMengusung gaya arsitektur modern minimalis tidak hanya dapat diterapkan di hunian berukuran luas. Gaya tersebut juga dapat diaplikasikan di hunian dengan luas bangunan yang terbatas. Seperti halnya hunian tipe Amarilis di cluster Citra Bukit Raya. Ruang tamu didesain sedemikian rupa sehingga gaya minimalis modern terasa kental di dalamnya. Walaupun begitu, anda dapat tetap merasa nyaman saat meluangkan waktu bersama keluarga.
pemilihan furniture dan warna pada ruangan mendukung gaya arsitektur tersebut. Sofa dipilih yang bergaya simple dan chic dengan ukuran yang cukup untuk memuat seluruh anggota keluarga saat berkumpul bersama.
Meja tengah dan TV set menggunakan material kayu dengan desain yang mendukung aktivitas keluarga agar lebih leluasa dan maksimal. Ruangan didominasi warna putih, abu-abu, dan coklat yang memberi kesan luas dan bersih. Ada juga beberapa tanaman hias dan photo frame sebagai penghidup suasana. Lalu,peletakan lampu di pojok ruangan dapat menciptakan pencahayaan yang dramatis pada malam hari.

Ruang Multifungsi

Prinsip utama hunian bergaya modern minimalis adalah bangunan harus fungsional dan sesuai dengan gaya hidup penghuninya. Ruang tamu tipe Amarilis dibuat multifungsi sehingga mempermudah penghuni dalam mengolah desain interior sesuai dengan mood dan personalitynya.
Adanya ventilasi berupa jendala besar di samping ruang tamu juga memberikan keuntungan lebih. Sirkulasi udara akan lebih maksimal sehingga udara di dalam rumah lebih sehat dan segar. Hal ini juga berpengaruh pada penggunaan listrik di dalam rumah. Dengan begitu, hunian ini juga bisa dibilang ramah lingkungan, karena meminimalisir penggunaan listrik untuk air conditioner.

Interior CBR 3 low

Atasi Persoalan Sampah Dengan Pendisiplinan Masyarakat Sebagai Budaya EcoCulture

Peliknya permasalah sampah di negeri ini menuntut para pengembang untuk turut andil dalam menyelesaikan permasalahan ini. Salah satunya yang dilakukan PT Ciputra Residence, dalam mengembangkan mega proyek kota mandiri CitraRaya Tangerang sangat concern dan turut andil dalam menyelesaikan persoalan sampah ini dengan membangun TPA yang dikelolanya secara mandiri. Selain itu, dengan program EcoCultur yang dikembangkannya salah satunya dengan meningkatkan kepedulian warganya untuk mencintai dan membudayakan hidup sehat dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

CitraRaya Tangerang boleh berbangga dengan bernafaskan konsep EcoCulture yang tertanam dalam setiap sendi kehidupan masyarakatnya mampu mengatasi persoalan sampah dengan tersedianya tempat pengolahan sampah secara mandiri. Ini bisa dikatakan menjadi pusat kota mandiri yang patut dicontoh dalam meningkatkan kesadaran masyarakatnya agar peduli dan turut serta dalam membudayakan kepedulian terhadap lingkungan. Lalu, bagaimanakan penerapan EcoCulture di CitraRaya?

Persoalan sampah di setiap kota memang menyisakan permasalahan yang panjang. Tak terkecuali di Tangerang setiap harinya ada ratusan ton sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin Mauk, Kabupaten Tangerang. Tercatat, ada 800-900 ton sampah yang masuk ke TPA setiap hari-nya. Akibat masih kurangnya pelayanan serta minimnya kedisiplinan masyarakatnya membuang sampah ketempatnya sehingga menyisakan tumpukan sampah yang membuat lingkungan menjadi kotor. Hal ini tentunya menjadi perdebatan panjang, mulai dari sulitnya melakukan penyadaran kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan hingga tempat pembuangan sampah akhir.

CitraRaya Tangerang, Kota Mandiri dengan luasan pengembangan mencapai 27.60[2.760 Ha] hektar (Ha) ini tidak hanya mengembangkan rumah saja, segala aspek detilnya dipersiapkan untuk menjadikan sebagai perumahan impian bagi penghuninya. Program EcoCulture yang mulai dikembangkan sejak 2011 ini tidak menjadi simbol semata. Dalam kenyataannya, program yang menjadi pilot project seluruh proyek Ciputra Group ini tumbuh seiring dengan denyut nadi setiap proyek dan para penghuni di CitraRaya Tangerang.

Deputy GM Manajemen Kota CitraRaya Tangerang, Meita Mediawati mengatakan sejalan itu ada pengolahan air limbah sewage Treatment Plant (STP) yang dilengkapi dengan tersedianya danau-danau buatan yang mampu menampung ratusan ribu kubik air per harinya.

Tempat pengolahan sampah (TPS) mandiri yang dikelola CitraRaya Tangerang menjadi salah satu lokasi yang menjadi bagian terpenting Kota Mandiri ini. Fasilitas pengelolaan sampah CitraRaya yang bertempat di Binong Desa Ciakar dikhususkan untuk mendaur ulang sampah dengani kapasitas pengelolaan hingga 2 ton sampah organik dalam sekali produksi dan didaur ulang menjadi 800 kg pupuk kompos. Selain pupuk kompos, sebagian sampah diolah menjadi biogas yang berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik untuk mesin pengolahan sampah. Kapasitas pengolahan sampah tahap awal di TPS ini akan terus dikembangkan dan ditingkatkan sejalan dengan aktivitas pengembangan kawasan CitraRaya Tangerang.

“Sampah yang dikelola di TPS ini mampu menampung lebih dari 80 ton per hari yang berasal dari sampah rumah tangga, maupun sampah yang berasal dari area komersial. Dan dalam prosesnya, sampah-sampah dipilah antara sampah organik (sampah basah) dan anorganik (sampah kering). Selanjutnya, sampah organik diolah menjadi kompos dan biogas (pembangkit listrik). Sampah organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik, seperti sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun. Kertas dan koran mudah teruraikan sehingga termasuk kategori sampah organik meskipun bukan berasal dari tumbuhan atau hewan,” kata Meita dalam keterangannya di Tangerang, Selasa (1/1/2016).

Menurutnya, setiap kompos yang dihasilkan dari tempat pengolahan tadi selanjutnya akan digunakan untuk menyuburkan tanaman di seluruh ruang terbuka hijau di CitraRaya. Sementara listrik yang dihasilkan dari biogas akan dimanfaatkan untuk menghidupkan mesin pengolahan sampah juga penerangan di TPS. Sementara untuk sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis akan dijual.

“Untuk mendukung semua langkah ini, kita telah menyediakan lebih dari 1.000 tong sampah yang ditempatkan di hampir seluruh titik area unit cluster dan komersial juga pinggir jalan-jalan utama (area publik). Namun hal itu tidaklah cukup tanpa adanya peran warga CitraRaya. Untuk itu, kami dalam menjalankan misi EcoCulture ini dengan merangkul warga CitraRaya untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungannya dengan memberikan penyuluhan dan berbagai kegiatan yang sudah kami agendakan untuk mengedukasi warga agar terbiasa dan memiliki budaya mencintai lingkungan.”

Sejalan dengan dikembangkannya TPS, Citraraya juga mengembangkan kawasan pembibitan yang dibangun diatas lahan seluas 7.000 meter persegi. Kawasan pembibitan ini mulai dikembangkan sejak Oktober 2011 sekaligus dikukuhkannya program EcoCulture. Dikembangkannya kawasan ini selain untuk memenuhi kebutuhan tanaman di CitraRaya juga difungsikan sebagai tempat pemeliharaan tanaman.

“Seluruh kebutuhan kompos sebagai media tanamnya kita gunakan dari hasil pengolahan di TPS kita. Kita menyebutnya, “Dari dan Untuk CitraRaya”. Hasilnya sangat memuaskan, dimana di kawasan ini sudah mampu memproduksi pembibitan hingga 10 ribu batang dengan berbagai jenis tanaman yang dibutuhkan untuk penghijauan di CitraRaya,” jelas Meita

Memaknai EcoCulture

Meita menambahkan sejak diluncurkan pada 2011 lalu, program CitraRaya EcoCulture yang bertujuan untuk membudayakan gaya hidup ramah lingkungan di kota mandiri CitraRaya Tangerang mengalami kemajuan pesat. Kawasan tersebut kini semakin tertata rapi, hijau, sejuk, dan asri. Sejurus itu, program ini juga turut memberikan pengaruhnya. Sebagai contoh, dari sisi investasi properti, program ini sejalan dengan visi besar CitraRaya untuk menciptakan lingkungan sosial bergaya hidup ramah lingkungan (green community), yang direalisasikan bagi semua stakeholder. Sehingga sangat mempengaruhi dan turut mendongkrak nilai investasi propertinya, baik untuk produk residensial maupun komersial di CitraRaya.

“CitraRaya EcoCulture merupakan program terencana, terpadu dan berkesinambungan untuk mewujudkan terciptanya budaya ramah dan peduli lingkungan yang secara kontinyu program “perawatan” lingkungan ini sudah sejak lama dilakukan. Program ini menjadi semacam penegasan secara formal dari keseriusan kami untuk lebih menggiatkannya ke seluruh stake holder yang terlibat,” ujarnya.

Adapun beberapa langkah penting yang telah dilakukan terkait program itu antara lain merevitalisasi kawasan-kawasan hunian dan area komersial menjadi lebih hijau, perbaikan infrastruktur dan penataan rambu-rambu di jalan-jalan utama, pembuatan jalur sepeda (bike lane) lengkap dengan rambu-rambunya, pengelolaan sampah ramah lingkungan dengan metode composting yang menghasilkan kompos per 4 ton pupuk organik per bulan, serta pembuatan ribuan lubang biopori untuk menjaga kualitas resapan air tanah. Selain itu, pihaknya juga kini telah memanfaatkan solar cell sebagai sumber energi listrik tenaga surya untuk menggerakkan aerasi air danau, dan penerangan jalan umum (PJU) dengan lampu hemat energi LED.

“Mulai sekarang kami juga memperbanyak tanaman peneduh untuk menyegarkan lingkungan agar bisa menurunkan suhu di areal mikro, sekaligus memperbanyak oksigen di lingkungan ini,” katanya.

Di samping perawatan lingkungan dan pembenahan infrastruktur, menurut Meita, dalam dua tahun terakhir ini pembangunan hunian dan area komersial di CitraRaya telah menggunakan material bangunan ramah lingkungan, misalnya mengurangi pemakaian bahan kayu dan tidak memakai produk-produk yang tidak ramah lingkungan lainnya. Menurutnya, cara ini dilakukan untuk menyempurnakan hunian ramah lingkungan, sehingga semua produk rumah, ruko dan perkantoran didesain dengan pertimbangan pencahayaan alami dan sirkulasi udara dengan matang.

“Ini didasari dengan studi sun path analysis, wind profiling, dan solar exposure, sehingga desain rumah disesuaikan dengan konsep green house dengan memanfaatkan bukaan ruang yang memudahkan cahaya masuk dan udara berputar sempurna, sehingga rumah akan lebih terang secara alami meski tidak banyak menggunakan lampu, sekaligus kesejukan akan tetap terjaga dengan meminimalkan kerja AC,” jelasnya.

Ia menambahkan, meskipun pengaplikasian fitur-fitur green property ini membebani biaya produksi dan perawatan lingkungan, namun dalam waktu jangka panjang banyak keuntungan bisa didapatkan. Salah satu contoh penggunaan lampu LED untuk PJU.

“Pembelian awalnya memang mahal, tapi running cost-nya lebih murah karena lebih hemat energi dibanding dengan lampu biasa. Sedangkan untuk rumah, dengan memanfaatkan material ramah lingkungan dan desain yang cermat, pemakaian AC dan lampu akan minim. Maka, kenaikan production cost tidak ada artinya jika dibanding dengan manfaatnya,” ucapnya.

CitraGarden Aneka, Memperkenalkan Ruang Terbuka Hijau

Sebagai sebuah komitmen Ciputra Group dalam membangun perumahan yang berorientasi kepada green environment, CitraGarden Aneka dengan design Classic Mediteranian menghadirkan ruang terbuka hijau yang memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan memperlambat proses pemanasan global.
Keberadaan ruang ini tak hanya menjadikan CitraGarden Aneka sekedar tempat yang sehat dan layak huni tapi juga nyaman dan asri. Selain itu, ruang terbuka hijau dapat juga dijadikan sebagai salah satu sarana untuk berolahraga, menumbuhkan rasa bangga, meningkatkan prestige dan gaya hidup penghuninya, jelas Eko Sudarusman, Project Director CitraGarden Aneka.

Bahkan terkandung pula manfaat yang lebih bernilai sosial seperti sebagai sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial atau sebagai sarana aktivitas sosial bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula. Bisa dibilang kebutuhan akan adanya ruang semacam ini di kota-kota besar tak hanya sekedar perlu namun sudah menjadi kebutuhan.
Selain itu, fasilitas dalam perumahan ini, selain dilengkapi dengan sport club, juga terdapat jogging track, children playground, CCTV lingkungan, security 24 jam dan one gate cluster system, dimana setiap penghuni akan diberikan access card yang mendukung berjalannya proses pengelolaan keamanan lingkungan perumahan.
Pembangunan infrastruktur yang sudah kami mulai saat ini, merupakan langkah awal dari kami untuk menciptakan kehidupan baru di kota Pontianak.

Kami tidak hanya membangun kota, tapi kami membangun kehidupan. Dimana setiap harapan yang kami inginkan, pembeli akan merasa nyaman tinggal di hunian yang kami kembangkan dan dilengkapi dengan fasilitas yang tersedia. Sehingga CitraGarden Aneka akan menjadi pilihan utama hunian bagi warga Pontianak dan sekitarnya.

Hubungi segera Marketing Point kami di Jalan Gajah Mada No. 125, telepon: 8100099