Apa Itu Sertifikasi EDGE? Standar Bangunan Hijau dan Pencapaian Nyata Ciputra Group
Sertifikasi EDGE sering disebut sekilas dalam berita properti, tapi jarang dijelaskan tuntas apa artinya dan seberapa signifikan pencapaiannya. Artikel ini membahas apa itu sertifikasi EDGE, standar teknisnya, sekaligus bukti nyata pencapaian sertifikasi EDGE di beberapa proyek Ciputra Group, lengkap dengan angka pastinya.
Apa Itu Sertifikasi EDGE?
EDGE, singkatan dari Excellence in Design for Greater Efficiencies, adalah sistem sertifikasi bangunan hijau yang dikembangkan oleh International Finance Corporation (IFC), anggota kelompok Bank Dunia. EDGE dirancang untuk mendorong lebih banyak investasi bangunan ramah lingkungan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Sertifikasi ini bisa diterapkan pada berbagai jenis bangunan, mulai dari hunian, apartemen, hotel, rumah sakit, sekolah, ritel, hingga perkantoran.
Baca Juga: Neo Pine Tree CitraRaya Tangerang: Rumah 2 Lantai mulai Rp 1,25M di Ecopolis
Standar 20-20-20 dalam Sertifikasi EDGE
Inti dari sertifikasi EDGE adalah standar yang dikenal sebagai “20-20-20”. Sebuah bangunan diakui sebagai EDGE Certified jika mampu menunjukkan penghematan minimal 20 persen pada tiga aspek, dibandingkan dengan bangunan standar sejenis di lokasi yang sama.
| Aspek | Ambang Minimum EDGE Certified |
|---|---|
| Penghematan energi | Minimal 20% |
| Penghematan air | Minimal 20% |
| Pengurangan energi terkandung dalam material bangunan | Minimal 20% |
Tingkatan Sertifikasi EDGE
Sertifikasi EDGE memiliki tiga tingkatan: EDGE Certified sebagai tingkat dasar, EDGE Advanced untuk capaian efisiensi yang lebih tinggi, dan Zero Carbon sebagai tingkat tertinggi bagi bangunan yang mencapai netralitas karbon. Detail ambang batas resmi untuk tingkat EDGE Advanced dan Zero Carbon sebaiknya dikonfirmasi langsung ke Green Building Council Indonesia (GBCI) sebagai mitra resmi EDGE di Indonesia.
EDGE di Indonesia, Sudah 10 Tahun Berjalan
EDGE diluncurkan di Indonesia sejak Juni 2015 bersama Green Building Council Indonesia (GBCI) sebagai mitra lokal. Hingga pertengahan 2025, lebih dari 200 proyek di Indonesia telah mengantongi sertifikasi EDGE, mencakup total luas bangunan sekitar 4,3 juta meter persegi.
Pencapaian Sertifikasi EDGE di Proyek Ciputra Group
Komitmen Ciputra Group terhadap bangunan hijau bukan sekadar klaim, tapi sudah dibuktikan lewat beberapa proyek yang berhasil meraih sertifikasi EDGE dari IFC.
Citra Towers Kemayoran, Proyek EDGE Pertama di Asia Tenggara

Citra Towers Kemayoran, kawasan perkantoran seluas 1,8 hektare di Jl. Benyamin Suaeb, Kemayoran, Jakarta Pusat, tercatat sebagai proyek pertama di Asia Tenggara yang mengantongi Sertifikat EDGE dari IFC. Pencapaian ini didukung konsep ruang dengan sirkulasi udara alami yang mendukung kenyamanan penghuni sekaligus efisiensi energi bangunan.
CitraLake Suites, Desain yang Mendukung Efisiensi Energi

CitraLake Suites di kawasan Citra 6, CitraGarden City, berhasil memperoleh EDGE Certification dari IFC berkat sejumlah fitur desain yang mendukung efisiensi. Bangunan ini punya konsep open space dengan bukaan luas di empat penjuru, sehingga sirkulasi udara mengalir alami ke seluruh koridor lantai. Penempatan dan desain jendela dioptimalkan untuk memaksimalkan pencahayaan matahari dan mengurangi penggunaan listrik, ditambah kaca sunergy untuk meminimalkan radiasi panas. Lampu di area publik menggunakan LED, sistem water recycle dimanfaatkan untuk penyiraman taman, dan cat yang digunakan sudah bersertifikat green label ramah lingkungan.
Ecopolis, Capaian Efisiensi Melebihi Standar Minimum

Ecopolis, mega cluster seluas 100 hektare di kawasan CitraRaya Business District, berhasil meraih sertifikasi EDGE dengan capaian yang jauh melampaui ambang minimum. Berikut perbandingannya:
| Aspek | Ambang Minimum EDGE | Capaian Ecopolis |
|---|---|---|
| Penghematan energi | 20% | 48% |
| Penghematan air | 20% | 40% |
| Pengurangan energi terkandung dalam material | 20% | 40% |
Capaian ini didukung sejumlah fitur ramah lingkungan di seluruh kawasan: lampu penerangan jalan menggunakan LED, orientasi bangunan yang dirancang dengan mempelajari jalur edar angin dan matahari, penggunaan dual waste bins, serta pengolahan air limbah dengan teknologi Sewage Treatment Plant (STP).
Kenapa Sertifikasi EDGE Penting bagi Calon Pembeli Rumah
Sertifikasi EDGE bukan cuma soal citra ramah lingkungan. Efisiensi energi dan air yang lebih tinggi berarti tagihan listrik dan air yang lebih hemat bagi penghuni dalam jangka panjang, sekaligus tanda bahwa kawasan tempat tinggal dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan sejak awal pembangunan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa kepanjangan dari EDGE dalam sertifikasi bangunan hijau?
EDGE adalah singkatan dari Excellence in Design for Greater Efficiencies, sistem sertifikasi bangunan hijau yang dikembangkan oleh IFC.
Berapa standar minimum penghematan untuk meraih sertifikasi EDGE?
Standar minimum dikenal sebagai “20-20-20”, yaitu penghematan minimal 20 persen pada energi, air, dan energi terkandung dalam material bangunan, dibanding bangunan standar sejenis.
Proyek Ciputra Group mana saja yang sudah bersertifikasi EDGE?
Beberapa proyek yang sudah bersertifikasi EDGE antara lain Citra Towers Kemayoran, CitraLake Suites, dan Ecopolis.
Apa beda EDGE dengan sertifikasi Greenship?
EDGE dikembangkan oleh IFC dengan fokus pada efisiensi energi, air, dan material, sementara Greenship adalah sistem sertifikasi bangunan hijau milik Green Building Council Indonesia (GBCI). Keduanya kerap saling melengkapi dalam praktik sertifikasi bangunan hijau di Indonesia.
Apakah sertifikasi EDGE berlaku untuk rumah tapak atau hanya gedung tinggi?
EDGE bisa diterapkan pada berbagai jenis bangunan, termasuk hunian rumah tapak, apartemen, hotel, rumah sakit, sekolah, ritel, dan perkantoran, tidak terbatas hanya pada gedung tinggi.
Baca Juga: Kenali Inspirasi Schools CitraRaya Tangerang yang Akan Segera Dibuka
Bagian dari Komitmen EcoCulture Ciputra Group
Pencapaian sertifikasi EDGE di berbagai proyek Ciputra Group merupakan bagian dari komitmen EcoCulture yang sudah dijalankan sejak 2011, sebagai standar pengembangan proyek yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan secara konsisten, bukan sekadar tren sesaat.
